Jelajah
IMG-LOGO
Berita Desa

Nyadran Desa Karangrejo, Tradisi Leluhur yang Menyatukan: Ziarah, Doa, dan Meja Panjang Gotong Royong

Create By Amilia D Putri 18 February 2026 122 Views
IMG

Karangrejo, (Bulan Sya’ban/Ruwah) - Di tengah kesibukan kehidupan modern, Desa Karangrejo kembali membuktikan bahwa akar budaya tidak mudah goyah. Setiap tahun, saat bulan Sya'ban tiba dalam kalender Hijriyah atau yang dalam penanggalan Jawa dikenal sebagai bulan Ruwah warga dusun demi dusun di desa ini berkumpul, bahu-membahu membersihkan makam leluhur, lalu duduk bersama di masjid dan mushola untuk berdoa, berbagi makanan, dan mempererat tali silaturahmi melalui tradisi yang disebut Nyadran. Inilah salah satu warisan budaya Jawa yang paling hidup di Desa Karangrejo: sarat makna, penuh kebersamaan, dan terus diwariskan lintas generasi.

Kata 'nyadran' berakar dari bahasa Sansekerta, “sraddha”, yang berarti keyakinan. Tradisi ini telah ada jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara, berasal dari kepercayaan animisme masyarakat Jawa yang menghormati roh leluhur sebagai penjaga keselamatan hidup. Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1284, sudah terdapat ritual bernama Sraddha yang digelar untuk memperingati kepergian raja, dengan cara memberikan sesaji dan penghormatan kepada arwah yang telah meninggal. 

Titik balik besar terjadi pada abad ke-15, ketika para Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa. Alih-alih menghapus tradisi yang telah mengakar, para wali menempuh jalur akulturasi: tradisi leluhur tidak diberangus, melainkan diisi dan diselaraskan dengan nilai-nilai Islam. Pemujaan roh leluhur bertransformasi menjadi kiriman doa kepada Allah SWT agar leluhur mendapat ampunan dan rahmat-Nya. Sesaji bergeser menjadi kenduri dengan pembacaan ayat Al-Qur'an, zikir, dan tahlil. Dari sinilah nama nyadran (berasal dari kata Jawa sadran yang bermakna Ruwah Sya'ban) mulai dikenal luas dan terus dipraktekkan hingga hari ini.

Dalam kalender Jawa, bulan Ruwah setara dengan bulan Sya'ban dalam kalender Hijriyah. Nama Ruwah sendiri berasal dari kata "ngluru arwah" yang bermakna mencari/mengenang arwah leluhur. Masyarakat Jawa meyakini bahwa momen ini adalah waktu terbaik untuk mendoakan leluhur yang telah wafat, sekaligus membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

    

Nyadran di Desa Karangrejo bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan peristiwa sosial yang paling dinantikan warga setiap tahunnya. Dilaksanakan di masing-masing dusun secara bergantian pada bulan Ruwah. Jika di sebagian besar daerah pelaksanaan Nyadran menggunakan sistem kembul bujono, makan bersama di mana setiap keluarga membawa makanan sendiri, maka Desa Karangrejo memiliki wajah yang khas dan berbeda yaitu sistem ‘piring terbang’, makanan yang sudah disediakan oleh panitia Nyadranan, dihidangkan dan dibagikan langsung kepada seluruh jamaah yang hadir beserta teh hangat. Setelah menyantap menu yang dihidangkan, masing-masing jamaah juga diberi bingkisan, disebut dengan istilah ‘Berkat’, elemen terpenting simbol doa, rasa syukur, dan keberkahan yang mengalir dari kegiatan Nyadran kepada seluruh warga, termasuk mereka yang tidak hadir secara fisik. 

"Ini adalah berkat. Tidak boleh ditolak."

Pernyataan itulah yang disampaikan Pak Kadus saat salah satu anggota Tim KKN 77 secara refleks mencoba menolak berkat yang diberikan kepadanya. Bagi warga Karangrejo, menolak berkat bukan hanya soal kesopanan, ia merupakan penolakan terhadap niat baik dan doa yang tersimpan di dalamnya. Pengalaman kecil ini menjadi pelajaran berharga bagi tim KKN 77: memahami budaya setempat bukan hanya dari buku, tetapi dari momen-momen kecil yang penuh makna seperti ini. 

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal mampu bertahan di tengah arus modernisasi selama ia terus dijaga, dirawat, dan diwariskan dengan penuh rasa bangga. Nyadran di Desa Karangrejo adalah potret nyata tentang bagaimana sebuah komunitas merawat identitasnya melalui tradisi.

Editor : Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret